Sabtu, 26 Maret 2011

Kiat Hati Menjadi Tenteram

Dzikir Manaqib Syech Abdul Qadir Al Dzaelani

Kiat Hati Menjadi Tenteram

By: agussyafii

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram". (Ar-Raad 28).

Kiat hati menjadi tenteram adalah dengan berzikir. Dari segi bahasa, zikir mempunyai dua arti menyebut dan mengingat Allah. Hati dengan mengingat Allahlah hati kita menjadi tenteram. Ada orang yang mulutnya menyebut nama Allah Subhanahu Wa Ta'ala tetapi hatinya justeru tidak mengingat Nya, malah mengingat syaitan dan maksiat, sebaliknya ada orang yang selalu ingat Allah meski tak terdengar sebutan nama Allah dari mulutnya.

Pada tradisi Islam dikenal ada zikir jahr dan ada zikir sirr. Zikir Jahr adalah menyebut nama Allah atau kalimah thayyibah (takbir, tahmid, tasbih dan salawat Nabi) dengan mengeraskan suara. Biasanya zikir jahr dilakukan bersama-sama, di masjid atau di tempat khusus (zawiyah) dipimpin seorang guru. Sekarang acara zikir jahr marak dilakukan oleh masyarakat, dipimpin antara lain oleh Arifin Ilham, Ustad haryono serta Guru dan Orangtua kita Abah KH Junaedi Al Baghdadi dan lain-lainnya. Ada lagi yang disebut istighotsah, artinya mohon pertolongan, isinya membaca doa mohon sesuatu secara ramai-ramai (demontrasi doa) di tempat terbuka.

Jika pada acara tahlilan, zikir lebih merupakan tradisi, pada kelompok pengajian, metode mendekatkan diri kepada Allah. Bagi pengamal tarekat, membaca zikir dalam majlis zikir merupakan hiburan dan kenikmatan spiritual, baik ketika sedang membaca maupun sepulang dari berzikir. Pembacaan zikir yang dilakukan secara reguler yang disiplin dan tertib (disebut wirid) akan mengembangkan "rasa" tertentu yang dapat disebut sebagai religiusitas.

Ekpressi ahli zikir itu pada umumnya tenang dalam menghadapi berbagai persoalan, wajahnya berseri-seri meski kepada musuh sekalipun dan fleksibel dalam mencari problem solving. Zikirnya pada umumnya lebih afektif dibanding kognitif, oleh karena itu mereka pada umumnya enggan menerangkan bagaimana anatomi kenikmatan zikir, bahkan ketika zikir dikatakan sebagai bid`ah atau sesat. Mereka cukup mengatakan cobalah ikut, nanti anda akan dapat merasakan sendiri.

Adapun zikir sirr adalah zikir yang tidak diucapkan dengan mulut tetapi lebih di dalam hati. Bagi yang sudah mencapai tingkat ini, setiap kali melihat fenomena alam yang terbayang adalah Sang Pencipta bukan bendanya, seperti orang yang melihat lukisan indah, ia tidak terpaku pada lukisannya tetapi terkagum-kagum kepada sang pelukis, dan yang dibayangkan adalah jiwa besar kesenimanan sang pelukis.

Jika pengamal zikir jahr mudah dikenali orang karena agenda kegiatannya, juga penampilannya. orang yang sudah mencapai zikir sirr pada umumnya tidak mudah dikenali, karena memang tidak pernah menunjukkan jati dirinya. Secara lahir ia seperti orang biasa lainnya, tetapi dibalik kebiasaan penampilan sesungguhnya ada kekuatan religiusitas yang sangat dalam atau tinggi. Di tengah keramaian hiruk pikuk manusia, ia selalu berduaan dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, di tengah kesepian alam ia justeru merasa ramai bersama Sang Khaliq, ia selalu tersenyum dalam kesendirian, selalu ramai dalam kesepian.

Berlarilah Menuju Allah

Dzikir Manaqib Syech Abdul Qadir Al Dzaelani

Berlarilah Menuju Allah

By: agussyafii

Hidup ini terlalu singkat bila kita berjalan menuju Allah. Kita harus berlari menuju Allah sebelum waktu kita didunia habis dan berakhir. al-Qur'an mengingatkan kita untuk berangkat menuju kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebagaimana FirmanNya.

'Oleh karena itu, bersegeralah berlari kembali menuju Allah (QS. al-Dzuriyar :50).

Akan berapa lama lagi kita mempunyai waktu dalam hidup ini? sedetik, sehari, sebulan, setahun, kita tidak pernah tahu ada berapa lama waktu kita dalam hidup ini? seringkali kita menunda untuk kembali kepadaNya. Mari kita bergegas berlari menuju kepada Allah untuk menunaikan sholat tahajud karena kita tidak akan pernah tahu berapa lama lagi kita masih bisa hidup. Sebelum terlambat.

Yuk, sholat tahajud...!

Wajib Di Pahami dan Mengerti

Dzikir Manaqib Syech Abdul Qadir Al Dzaelani

'Allahuma robbi nabiyyi muhammadin, ighfirly dzanbii wa azhib ghaizha qolbi wa ajirni min mudhilatil fitnah.' Artinya, 'Ya Allah, Tuhan Nabi Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kemarahan dari hatiku dan selamatkanlah aku dari marabahaya kesesatan segala bentuk fitnah.'

”Seluruh dunia ini adalah perhiasan dan perhiasan terbaik di dunia ini adalah istri yang sholehah.” (HR. an-Nasa’I dan Ahmad).(Hadist Untuk Para Istri yg ingin Masuk Surganya Allah SWT)

"Hidup akan terasa indah apabila dihiasi dengan satu senyuman indah dan tegur sapa untuk orang-orang disekeliling kita. Sebagaimana Nabi Muhammad senantiasa mengingatkan kita agar selalu tersenyum kepada saudaranya, "Senyummu dihadapan saudaramu adalah shodaqoh." (HR. Muslim).(Hadis Untuk Ganjaran Pahala Orang yg Murah Senyum)

'Hai orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu mengatakan, bahwa orang yang meninggal dijalan Allah itu mati, bahkan sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.' Al Baqarah ayat 153-154).

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (QS Ath-Thalaq 4).

'Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yg benar.'(QS Al-Hujurat:15).

Terlindungi Karena Rahmat Allah

Dzikir Manaqib Syech Abdul Qadir Al Dzaelani

Terlindungi Karena Rahmat Allah

Di dalam salah satu kitab mengisahkan, pada suatu hari Syekh Abdul Qadir Jaelani dan beberapa murid-muridnya sedang dalam
perjalanan di padang pasir dengan telanjang kaki. Saat itu bulan Ramadhan dan padang pasirnya panas. Beliau bertutur "Disaat kami sangat haus dan luar biasa lelahnya. Murid-muridku berjalan di depanku. Tiba-tiba awan muncul di atas kami, seperti sebuah payung yang melindungi kami dari panasnya matahari. Di depankami muncul mata air yang memancar dan sebuah pohon kurma yang sarat dengan buah yang masak. Akhirnya datanglah sinar berbentuk bulat, lebih terang dari matahari dan berdiri berlawanan dengan arah matahari. Dia berkata, 'Wahai para murid Abdul Qadir, aku adalah Allah, Tuhan kalian. Makan dan minumlah karena telah aku halalkan bagi kalian apa yang aku haramkan bagi orang lain!'

Murid-muridku yang berada didepanku berlari ke arah mata air itu untuk meminumnya, dan kearah pohon kurma untuk dimakannya. Aku berteriak kepada mereka untuk berhenti, dan aku putar kepalaku ke arah suara itu dan berteriak,

'Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaithon yang terkutuk!'

Awan, sinar, mata air dan pohon kurma sarat dengan buah yang masak. Akhirnya hilang. Syaithon berdiri dihadapan kami dalam rupanya yang paling buruk. Syaithon itu bertanya, 'Bagaimana kamu tahu bahwa itu aku?'

Syekh Abdul Qadir katakan pada syaitan yang terkutuk yang telah dikeluarkan Allah dari rahmatNya bahwa firman Allah bukan dalam bentuk suara yang dapat didengar oleh telinga ataupun datang dari luar. Lebih lagi beliau tahu bahwa hukum Allah tetap dan ditujukan kepada semua. Allah tidak akan mengubahnya ataupun membuat yang haram menjadi halal ataupun sebaliknya bagi siapa yang dikasihiNya.

Mendengar ini, syaithon berusaha menggodanya lagi dengan memujinya, 'Wahai Abdul Qadir,' kata syaithon, 'aku telah membodohi tujuh puluh nabi dengan tipuan ini. Pengetahuanmu begitu luar dan kebijakanmu lebih besar daripada nabi-nabi itu!'

Abdul Qadir mengatakan, 'Aku berlindung darimu kepada Tuhanku yang Maha mendengar dan Maha mengetahui. Karena bukanlah pengetahuanku ataupun kebijakanku yang menyelamatkan aku darimu, tetapi hanya dengan rahmat Allah-lah aku bisa selamat.'

Kisah diatas mengajarkan kita agar senantiasa berlindung kepada Allah dari segala Marabahaya, godaan kehidupan materi & duniawi yang senantiasa menyesatkan hati kita. Hanya dengan rahmat Allahlah diri kita dan keluarga bisa selamat dunia akherat.

Ya Tuhan, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa neraka." (QS. Al-Baqarah: 201).

Pasrah daan Ikhlas

Dzikir Manaqib Syech Abdul Qadir Al Dzaelani

Teman Penggemar Mukjizat Sholat dan Doa,

Ditengah kehidupan yang kian sulit, hempasan gelombang berbagai masalah seolah datang bertubi-tubi. Semua solusi sudah dicoba untuk diterapkan namun belum juga nampak hasilnya. Tidak ada salahnya kita berserah diri pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, memohon dengan setulus hati, dengan kerendahan hati, akan menjadi terasa nikmat dan memudahkan kita menjalani kehidupan ini.

Mari kita sama-sama berdoa, semoga Allah berkenan mengabulkan doa-doa kita dan memudahkan semua kesulitan hidup yang tengah kita hadapi pada hari ataupun hari esok, yang nampak maupun yang tidak nampak.

'Ya Allah, janganlah Engkau biarkan di tempat kami ini seorangpun yang sakit kecuali Engkau sembuhkan, yang mengalami kesulitan kecuali Engkau mudahkan kesulitannya, yang berhutang kecuali Engkau bayar hutangnya, yang sendirian kecuali Engkau berikan pasangan, yang belum memiliki momongan kecuali Engkau titipkan bayi mungil untuknya, yang resah kecuali Engkau hilangkan keresahannya. Tidak juga ada dambaan menyangkut dunia & akherat yg Engkau ridhoi & kemaslahatan untuk kami kecuali Engkau memenuhinya & mempermudahkannya. Amin'

Jumat, 13 Agustus 2010

Bro...Lebih Dekat Lagi dengan Allah SWT yukzz....

Dzikir Manaqib Syech Abdul Qadir Al Dzaelani

Sesungguhnya tidaklah bisa dipisahkan antara kecintaan (mahabbah) seseorang kepada Allah swt dengan keimanan (percaya) kepada-Nya. Bahkan syarat dari keimanan seseorang kepada-Nya adalah memberikan cintanya kepada-Nya dengan tulus dan sepenuhnya diatas kecintaannya kepada selainnya, sebagaimana disebutkan didalam firman-Nya :


Artinya : “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS. Al Baqoroh : 165)

Tentang makna وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ (Dan orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah), Ibnu Katsir mengatakan bahwa kecintaan mereka (orang-orang beriman) kepada Allah, bentuk kesempurnaan ma’rifat (pengenalan) mereka kepada-Nya, pengesaan mereka kepada-Nya adalah mereka tidak menyekutukan Allah swt dengan sesuatu akan tetapi mereka menyembah-Nya saja, bertawakal kepada-Nya serta mengembalikan segala permasalahan mereka kepada-Nya. (Tafsir al Qur’an al Azhim juz I hal 476)

Firman Allah lainnya :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” (QS. Al Maidah : 54)

Serta sabda Rasulullah saw,”Tiga perkara jika itu ada pada seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman; orang yang mana Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, mencintai seseorang yang ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran tersebut sebagaimana ia benci untuk masuk neraka." (HR. Bukhori dan Muslim)

Markaz al Fatwa didalam penjelasannya tentang hadits diatas menyebutkan bahwa untuk menyempurnakan kecintaan seseorang kepada Allah dan menjadikannya lebih diutamakan dari kecintaan kepada yang lainnya maka menuntut pula disempurnakannya beberapa perkara berikut :

1. Keyakinan seseorang bahwa Allah swt yang mengadakan diri orang itu dari sebelumnya tidak ada, menyempurnakan nikmat-Nya kepada dirinya baik nikmat lahir maupun batin, sebagaimana firman-Nya :

Artinya : “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl : 18)

2. Memikirkan tentang kerajaan langit dan bumi, kebesaran ciptaan-ciptaan-Nya yang menunjukkan keagungan keagungan Sang Penciptanya dan Yang Mengadakan segala sesuatu didalamnya.

3. Mentadabburi (merenungi) nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang menunjukkan kasih sayang dan kebaikan-Nya, ilmu dan kemuliaan-Nya, kelembutan kepada hamba-hamba-Nya. sesungguhnya merenungi sifat-sifat ini mewariskan kecintan dan pengagungan Allah swt didalam hati.

4. Mengetahui bahwa segala sesuatu yang dicintai di dunia, seperti : diri sendiri, keluarga atau harta sesungguhnya berasal dari kemuliaan Sang Pemberi Nikmat yang besar, yaitu Allah swt maka mencintai Allah swt lebih utama dan didahulukan daripada mencintai segala yang dicintainya.

5. Meyakini dengan sempurna bahwa tidaklah sempurna keimanan seseorang kecuali dengan mengedepankan kecintaannya kepada Allah swt diatas segala kecintaannya terhadap segala sesuatu di dunia.

6. Berdoa kepada Allah swt bahwa Dia lah yang memberikan rezeki cinta-Nya kepadamu lalu Dia juga yang menjadikan kecintaanmu kepada-Nya lebih diutamakan diatas segala kecintaan terhadap yang lainnya. Diriwayatkan dari Daud as bahwa dia berdoa dengan doa berikut :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالْعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي وَأَهْلِي وَمِنْ الْمَاءِ الْبَارِدِ

Artinya : “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kecintaan-Mu, dan kecintaan orang yang mencintai-Mu, serta amalan yang menyampaikanku kepada kecintaan-Mu. Ya Allah, jadikanlah kecintaanMu lebih aku cintai daripada diriku, keluargaku serta air dingin.”

Doa ini meski sanadnya lemah yang diriwayatkan oleh Tirmidzi namun tidak mengapa digunakan untuk berdoa. (Markaz al Fatwa, Fatwa No. 22296)

Wallahu A’lam

TANGISAN BILAL BIN RABAH -Radhiallaahu ‘Anhu, MUAZIN RASULULLAH (kisah kesetiaan Islam yang mengharukan)

Dzikir Manaqib Syech Abdul Qadir Al Dzaelani

Jika nama Abu Bakar disebut, Al-Faruq Umar bin al-Khaththab -Radhiallaahu ‘Anhu berkata, “Abu Bakar adalah tuan kami, dan dia membebaskan tuan kami.” Yakni Bilal. Orang yang disebut Umar sebagai “tuan kami” adalah benar-benar orang yang mulia dan mempunyai kedudukan yang agung.

Ia adalah mu’adzin Rasulullah -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam. Ia adalah hamba yang disiksa oleh tuannya dengan batu yang telah dipanaskan un-tuk memurtadkannya dari agamanya, tapi ia berkata, “Ahad, Ahad (Allah Yang Esa).”

Ia hidup sebagai hamba sahaya, hari-harinya berlalu tanpa beda dan buruk. Ia tidak punya hak pada hari ini, dan tidak punya harapan pada esok hari. Seringkali ia mendengar tuan-nya, Umayyah, berbicara bersama kawan-kawannya pada suatu waktu dan para anggota kabilah di waktu lain tentang Rasulullah -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam, dengan pembicaraan yang meluapkan amarah dan ke-dengkian yang sangat.

Pada suatu hari Bilal bin Rabah mengetahui cahaya Allah, lalu ia pergi menemui Rasulullah a dan mengikrarkan keisla-mannya. Setelah itu ia menghadapi berbagai macam penyiksaan, tapi ia tetap tegar bagai gunung. Ia diletakkan dalam keadaan telanjang di atas bara api. Mereka membawanya keluar pada siang hari ke padang pasir, dan mencampakkannya di atas pasir-pasir yang panas dalam keadaan tak berbaju. Kemudian mereka membawa batu yang telah dipanaskan yang diangkut dari tem-patnya oleh sejumlah orang dan meletakkannya di atas tubuh dan dadanya. Siksa demi siksa berulang-ulang setiap hari, tapi ia tetap tegar. Hati sebagian penyiksanya menjadi lunak seraya berkata, “Sebutlah Lata dan Uzza dengan baik.” Mereka me-nyuruhnya supaya memohon kepadanya tapi Bilal menolak untuk mengucapkannya, dan sebagai gantinya ia mengucapkan senandung abadinya, “Ahad, Ahad“.

Abu Bakar ash-Shiddiq -Radhiallaahu ‘Anhu datang pada saat mereka menyiksanya, dan meneriaki mereka dengan ucapan, “Apakah kalian membunuh seseorang karena berucap, ‘Rabbku adalah Allah?’.” Abu Bakar meminta kepada mereka untuk menjualnya kepadanya. Umayyah memang berkeinginan untuk menjualnya. Akhirnya Abu Bakar rhu membelinya dengan harga yang berlipat ganda dari Umayyah. Setelah itu dia membebaskannya, dan Bilal mulai menjalani kehidupannya di tengah-tengah orang-orang mer-deka… para sahabat yang taat lagi berbakti. Ketika Abu Bakar memegang tangan Bilal untuk membawanya, maka Umayyah berkata kepadanya, “Ambillah! Demi Lata dan Uzza, seandainya kamu menolak kecuali membelinya dengan satu uqiyah, niscaya aku menjualnya kepadamu dengan harga itu.” Abu Bakar rhu menjawab, “Demi Allah, seandainya kamu menolak kecuali seharga seratus uqiyah, niscaya aku membayarnya.”

Setelah Rasulullah -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam hijrah ke Madinah, Rasulullah -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam me-nyariatkan adzan untuk shalat, dan pilihan jatuh pada Bilal sebagai mu’adzin pertama untuk shalat. Ini pilihan Rasulullah saw. Bilal pun melantunkan suaranya yang menyejukkan dan menggembirakan, yang memenuhi hati dengan iman, dan pendengaran dengan keindahan. Ia menyeru, “Allahu Akbar, Allahu Akbar” dan seterusnya. Ketika datang perang Badar, dan Allah menyampaikan urusannya, Umayyah keluar untuk berperang… Dan ia jatuh tersungkur dalam keadaan mati di tangan Bilal -Radhiallaahu ‘Anhu.

Pemimpin kekafiran mati tertusuk oleh pedang-pedang Islam sebagai balasan buat Bilal yang berteriak setelah terbunuh-nya, “Ahad, Ahad.” Hari-hari berlalu, Makkah ditaklukkan, dan Rasulullah -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam masuk Makkah dengan ditemani Bilal. Kebenaran telah datang, dan kebatilan telah sirna. Bilal mengikuti semua peperangan bersama Rasul -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam dan mengumandangkan adzan untuk shalat. Ia terus menjaga syiar agama yang agung ini. Sampai-sampai Rasul -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam menyifatinya sebagai “seorang pria ahli surga”. Dan Rasul -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam berpulang ke haribaan Allah dalam keadaan ridha lagi diridhai. Sepeninggal beliau, sahabatnya dan khalifahnya, Abu Bakar ash-Shiddiq -Radhiallaahu ‘Anhu bangkit memimpin urusan kaum muslimin. Bilal pergi menemui ash-Shiddiq seraya berkata kepadanya, “Wahai Khalifah Rasulullah, aku mendengar Rasulullah -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda,


‘Amalan mukmin yang paling utama ialah berjihad di jalan Allah’.”*

Abu Bakar bertanya kepadanya, “Apakah yang engkau kehendaki, wahai Bilal?” Ia menjawab, “Aku ingin murabathah (siap siaga berperang) di jalan Allah hingga aku mati.” Abu Bakar bertanya, “Lantas siapa yang mengumandangkan adzan untuk kami?!”

Bilal berkata, sementara kedua matanya mengalirkan air mata, “Sesungguhnya aku tidak mengumandangkan adzan untuk seorang pun sepeninggal Rasulullah -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam .” Abu Bakar berkata, “Tetaplah mengumandangkan adzan untuk kami, wahai Bilal.” Bilal berkata, “Jika engkau memerdekakan aku agar aku menjadi milikmu, lakukan apa yang engkau suka. Jika engkau memerdekakan aku karena Allah, biarkanlah aku berikut pembebasan yang kau berikan kepadaku.” Abu Bakar berkata, “Aku memerdekakanmu karena Allah, ya Bilal.”

Bilal kemudian melakukan perjalanan ke Syam yang di sana ia terus menjadi mujahid dan selalu siap sedia untuk berjihad. Konon, ia berkali-kali datang ke Madinah dari waktu ke waktu … tapi ia tidak mampu mengumandangkan adzan. Hal itu karena setiap kali hendak mengucapkan, “Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah” (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah), kenangan-kenangan masa lalu menahan dirinya, lalu suaranya tersembunyi di kerongkongannya, dan sebagai gantinya air matanyalah yang meneriakkan kata-kata itu.**

Akhir adzan yang dikumandangkannya ialah pada saat Khalifah al-Faruq Umar bin al-Khaththab -Radhiallaahu ‘Anhu mengunjungi Syam. Kaum muslimin meminta Khalifah membawa Bilal agar mengumandangkan adzan untuk shalat mereka. Amirul Mu’minin memanggil Bilal, sementara waktu shalat telah tiba. Umar berharap kepadanya agar mengumandangkan adzan untuk shalat. Bilal pun naik dan mengumandangkan adzan… maka menangislah para sahabat yang pernah bersama Rasulullah saw ketika Bilal mengumandangkan adzan untuk beliau. Mereka menangis seakan-akan mereka tidak pernah menangis sebelumnya, selamanya.

Bilal meninggal di Syam dalam keadaan bersiap siaga di jalan Allah, sebagaimana yang dikehendakinya. Semoga Allah meridhainya dan menjadikannya ridha kepadaNya.